Friday, April 18, 2014

Tips Mudik Bagi Mahasiswa Perantau

Sebagai mahasiswa perantau, mudik adalah moment yang paling ditunggu. Selain bisa bertemu dengan orang tua dan keluarga lainnya, mudik juga bisa membuat pikiran kita fresh lagi, otaknya diistirahatkan dulu dari berbagai tugas di kampus, hehe. Melihat keadaan yang terjadi di terminal, membuatku ingin sekali membuat postingan seputar mudik seperti yang biasa aku rasakan. Langsung aja, ini dia beberapa tips mudik dengan kendaraan umum ala v3n (red: fitri en-panggilaanku saat SMP karena ada dua orang yang bernama fitri):
  • Pakai baju yang nyaman, simple, ga ribet, begitu pun dengan sepatu. Jangan dulu pakai sepatu dengan hak tinggi gitu. Uh.. it’s a big NO ^^
  • Bawa barang seperlunya. Kalau bisa cukup satu tas gendong biar ga ribet kalau lagi berburu kendaraan.
  • Hati-hati dengan barang berharga. Simpan di tempat yang aman. Misalnya di tas di bawah barang paling bawah. Resleting tas simpan di ujungnya. Simpan uang di lebih dari satu tempat, untuk atisipasi salah satunya hilang.
  • Kalau berburu bis, jangan mengantri di pintu depan soaalnya pintu depan itu buat penumpang yang mau turun. So, mengantri di pintu belakang ini khusus kalau lagi mudik yang benar-benar penuh dan bisnya jarang ada karena terkena macet.
  • Bawa bekal secukupnya (makanan dan minuman), khawatir macet dan lapar saat perjalanan.
Selamat mudik dan berkumpul bersama keluarga tercinta ;) 

Bandung, 18 April 2014. 10.30 WIB
Ditulis di bis setelah sekitar 2 jam menunggu bis datang

Wednesday, April 2, 2014

Jatuh Hati pada Jigoku Ramen

Hallo semuanya. Kali ini aku mau review makanan nih kayak para food blogger lainnya, hehe. Padahal blog ini berisi segala sesuatu yang ingin aku tulis :p tapi ga apa-apa ya, soalnya kalau aku apa-apa, aku sering googling dulu, mau beli makanan, make up, pergi ke tempat wisata, dll, hehe. Postingan aku sebelumnya belum pernah mereview makanan, paling juga masukin resep makanan, so bisa dibilang this is my first posting about food review, hehe bener ga grammarnya? :p
Oke, postingan aku kali ini mau sedikit membahas ramen. Ramen ini sejenis mie yang lagi booming di kota-kota di Indonesia termasuk di Bandung. Banyak sekali tempat makan yang menyediakan makanan khas Jepang ini dengan berbagai toping. Dari setiap tempat makan itu memiliki khasnya masing-masing dengan harga yang bervariasi. Kalau untuk mahasiswa seperti saya sepertinya suka sama makanan yang murah tapi enak, hahaha. Kalau yang mahal sih biasanya pasti enak :p Nah, dari beberapa ramen yang pernah aku coba di Bandung, aku ketagihan sama ramen yang ada di Cikutra. Ya, namanya Jigoku Ramen. Aku tahu tempat  ini dari teman PPL ku semester lalu, teh Uci (makasih teh Uci, hihihi). Saat PPL dulu, kita punya rencana buat makan ramen disana tapi belum pernah kesampaian sampai sekarang karena berbagai hal, huhuhu.
Suatu hari, aku sama orang terdekatku yang sama-sama suka makan nyari si jigoku ini ke Cikutra. Pertama liat depannya aja udah banyak sekali motor yang parkir disana plus para pengunjung yang lagi nunggu panggilan alias as a waiting list. Saking penuhnya tuh tempat parkir, motor yang kita tumpangin sampe diparkir di sebrangnya. Wow, makin penasaran saja nih sama ramennya. Ko bisa orang-orang mau ngantri segitunya, hehe. Jauh-jauh dari Setiabudi ga mungkin dong dibatalin makannya gara-gara liat banyaknya pengunjung. Ya sudah, kita coba dan ternyata kita waiting list ke 17 :D Aku masih ingat waktu itu aku sampai nunggu sekitar satu jam, hahaha.
Ga jauh sama tempat makan lainnya, pas masuk kita dipersilahkan duduk trus dikasih daftar menu sama buku pesanannya. Waktu itu kita pesan ramen yang topingnya ekado dengan kuah original dan sosis dengan kuah khas jigoku. Menu yang lainnya banyak sudah habis, padahal waktu itu aku kesana sekitar jam 4 sore. Harga dari kedua menu itu cukup terjangkau yaitu masing-masing 13k tapi rasanya ternyata sangat memuaskan, enak, dan banyak :D This is it
ekado ramen

sosis ramen

Untuk levelnya, di jigoku ini angkanya ganjil, 1, 3, 5, dst. Kalau untuk aku yang ga terlalu suka pedas tapi ingin sedikit ada pedas-pedasnya aku pesan level 1, hihihi. Lumayan pedas dikit, tapi ga terlalu pedas, cucok deh :D
Minumannya kita pesan Virginia yang harganya 9k sama air mineral yang harganya 3k.

Dengan harga 9k, minuman ini enak ko. Ada es krim sama keju yang lumayan banyak di atasnya. Tapi kalau buat kesehatan, abis makan yang pedas-pedas sih emang baiknya minum air mineral. Selain murah, sehat juga. Mau sehat ga harus mahal kan?hahaha :D
Over all, ramen ini sangat cocok buat pelajar dan mahasiswa, rasanya enak, murah, banyak lagi, yummy :D Oh iya, makanan dan minuman di Jigoku Ramen ini ga lebih dari 20k. Pantesan ya pengunjungnya penuh terus, apa lagi kalau weekend dan memang tempat ini tidak membuka cabang lagi. Pokoknya aku ga nyesal nunggu lama buat makan ramen disini, aku malah ketagihan, hahaha :D
Sekian. Thanks udah mau baca review makanan pertamaku ^^

Thursday, March 27, 2014

Cerita Mahasiswa Tingkat Akhir

Bismillah, 5 rangkap skripsi buat sidang :)

Bimbingan-revisi-bimbingan-revisi-acc-bimbingan-revisi, dst. Ada yang tau maksudnya apa?hehe. Ya, bimbingan skripsi. Sebagai mahasiswa tingkat akhir pasti mengalami ini, bisa dibilang suka duka menyusun skripsi. Entah kenapa jadi sensitif banget kalau ada yang nanya "udah nyampe bab berapa?", "kapan lulus?", "kapan wisuda?", apalagi kalau ada yang nanya "kapan nikah?", aduh kerasa nyesek banget pokoknya, kadang agak kesel juga sampe mikir yang negatif-negatif, emangnya gampang nyusun skripsi, emangnya ngerasain gimana nyusun skripsi, huaaa semuanya campur aduk jadi satu. tapi ada baiknya juga banyak yang nanya gitu soalnya bisa jadi motivasi juga biar semangat ngerjainnya, hehe. Galau, kepikiran terus gimana nasib skripsi, kalau cewe sih ngelampiasinnya ke makan. Jadi kalau aku pribadi pas nyusun skripsi ini malah jadi gendut bukan ngurusin :D
Penyakit yang sering diderita sama mahasiswa tingkat akhir yang lagi nyusun skripsi itu MALES. Banyak banget alasannya, bentar ah ol dulu, makan dulu, tiduran dulu, nonton tv dulu, sampe akhirnya ngerjain skripsinya cuma 10 menit, bahkan ga dapet sehalaman pun sama sekali, keburu ngantuk, tidur deh. Hadeuh.. Padahal males itu bisa berakibat fatal, ketinggalan jauh dari yang lain dan menyesal. Awas lho, penyesalan itu datangnya diakhir, kalau diawal namanya pendaftaran :p (kata Mario Teguh). Emang bener itu aku ngerasain banget, hahaha. Insap.. Insap.. :D
Kalau ada alasan dosen pembimbingnya susah ditemuin atau terlalu perfeksionis itu cuma alibi. Dospem yang susah ditemuin itu wajar namanya juga dosen, kegiatannya banyak. Kalau dibilang terlalu perfeksionis juga wajar, malah bagus berarti skripsi kita benar-benar diperiksa, mudah-mudahan pas sidang ga ada revisi, hehe aamiiin. Intinya semua itu bergantung pada diri kita sendiri. Sebanyak apapun orang yang memberi motivasi kepada kita, kalau kitanya ga ada keinginan itu sama aja bohong. Kan kita sendiri yang ngerjain, hehe. tapi motivasi itu memang sangat berarti, ceileh :D
Setiap abis bimbingan terus di-acc itu senengnya luar biasa, tapi abis itu ada lagi bab selanjutnya, ada lagi ini itu, revisi lah, galau lah, apa lah, nikmatin aja #nelen ludah, hihihi :D
Setelah melewati seabreg suka duka nyusun skripsi ini alhamdulillah akhirnya skripsi aku beres juga. Tidak sampai disini, perjalananku masih panjang, belum sidang skripsi. Apalagi nanti abis lulus, dan seterusnya dan seterusnya. Terima kasih banyak buat orang tua dan orang-orang terdekat yang selalu mendukung aku, mendengarkan keluh kesahku, dsb sampai skripsi ini beres juga. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu, aamiin.
Selamat buat teman-teman yang sebentar lagi mau wisuda, tetap semangat buat teman-teman yang masih proses skripsinya, sukses buat kita semua :)

Sunday, December 29, 2013

Bukan “Sulit” tapi “Tidak Mudah”

Hallo sahabat blogger, lama ga posting nih… wow dari bulan Juli sampai sekarang udah akhir Desember, 5 bulan pemirsa. Haduh kemana aja ya? Perasaan ga sibuk-sibuk amat cuma ga nyempetin nulis aja kali ya. Hmm ya udah lah ya, yang lalu biarlah berlalu alias “lets gone be by gone” :p
Semester ini berasa begitu cepat berlalu, sangat. Dari weekend ke weekend itu ga kerasa. Kalau ketemu hari Jumat rasanya seneng banget karena bakal ketemu Sabtu-Minggu yang bisa dibilang hari yang ditunggu-tunggu. Kenapa?kan libur :D tapi kalau menginjak hari Senin waduh gimana ya, kurang bersemangat (eits jangan diikutin plis) hehehe *cukup waktu itu aja, kedepannya harus selalu semangat* :D
Oh iya di semester ini aku ngontrak mata kuliah yang jauh berbeda sama kuliah-kuliah di semester-semester sebelumnya. Ada yang tau? Ya, PPL (Program Pengalaman Lapangan). PPL ini wajib diikuti oleh semua mahasiswa yang kuliah di program kependidikan. Pasti melewatinya. Inilah kuliah yang sesungguhnya (emang sebelumnya kuliah ga sungguh-sungguh?bukan gitu, jadi maksudnya di PPL ini kita praktek langsung di lapangan. Sebagai calon pendidik, kita benar-benar dilatih langsung di sekolah. Segala sesuatu yang dilakukan seorang pendidik kami pelajari dan kami lakukan secara langsung. Mulai dari mengajar di kelas, piket KBM, piket perpustakaan, rapat guru, upacara bendera, membina program ekstrakulikuler, menyusun segala administrasi yang diperlukan, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang diselenggarakan oleh sekolah. So, selama satu semester ini kita “kuliah”  bukan di kampus tapi di sekolah.
Saat PPL aku ditempatkan di salah satu SMP Negeri di Kota Bandung yang jam pelajarannya di mulai pukul 06.30. Jarak dari tempat kost sampai sekolah kurang lebih menghabiskan waktu 45 menit, jadi aku harus berangkat sekitar pukul 05.30. Tidak boleh ada kata terlambat. Sebagai guru praktikan pun harus berusaha menjadi contoh yang baik bagi murid-muridnya. Datang dan pulang sesuai jam pelajaran di sekolah, bukan karena jam mengajar. Aku harus pergi ke sekolah setiap hari jam sekolah yakni dari hari Senin sampai Jumat. Sabtu dan Minggu waktunya untuk beristirahat, it means libur.
Awalnya aku merasa sangat lelah dengan kegiatanku saat itu. Aku yang terbiasa pergi ke sekolah maupun ke kampus jalan kaki dengan jarak yang cukup dekat, kini harus bisa terbiasa dengan polusi dan jalanan yang macet. Berangkat pagi dan pulang sore yang tak jarang menemukan kemacetan di jalan seringkali membuat aku merasa ngantuk. Untungnya saat aku tertidur sejenak di kendaraan umum, aku masih selamat. Alhamdulillah :D tapi akhirnya aku sadar, banyak sekali hikmah dan pelajaran yang aku dapat selama kegiatan PPL berlangsung meskipun terkadang aku mengeluh kecapean. Aku belajar memahami karakter banyak orang saat mengajar di kelas maupun saat berinteraksi dengan semua pihak di sekolah. Aku belajar mengambil hikmah dari semua perjalanan kehidupan orang banyak dari apa yang ku dengar, ku lihat, dan ku rasakan. Aku belajar menjadi seorang pendidik dengan segala kegiatannya. Saat itu pun aku mengerti bahwa bukan hal mudah menjadi seorang guru profesional bagi pemula seperti aku. Ya, bukan “sulit” tapi ”tidak mudah” :)

Thursday, July 11, 2013

Nyamuk, Hujan, dan Ayam Bakar

Malam itu aku dan tiga orang geng Rancadaka berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat terawih pertama di tempat KKN. Masjid itu bernama masjid Al Hikmah sebagai masjid terbesar di desa ini. Kami mencoba berbaur dengan ibu-ibu disana yang usianya tak jauh beda dengan  nenekku. Sambutan mereka begitu hangat dengan kami sebagai orang baru disini. Salah seorang dari mereka menawarkan lotion anti nyamuk *aduh kami lupa membawanya* karena memang disini sang nyamuk sering ditemukan baik siang maupun malam dengan gigitan yang ga tanggung-tanggung, bahkan mereka (nyamuk) menggigit kulit kami secara berjamaah alias bersamaan di tempat yang sama, ckckck -_-
Saat shalat, ternyata benar, nyamuk berkeliaran di depan mukaku (orang lain pun sama) karena mungkin muka lah satu-satunya kulit tanpa pelindung mukena. Huftt menjaddi sedikit mengganggu konsentrasi -_-
Shalat isya selesai, keringat mulai bercucuran. Panas, padahal saat itu kami shalat di teras masjid. Ya, begitulah udara disini karena memang di dataran rendah yang dekat pantai. Seperti di masjid yang lainnya, di masjid ini pun terdapat taushiyah saat jeda antara shalat isya dan shalat terawih. Taushiyah ini cukup sebentar, hanya sekitar tujuh menit sehingga sering disebut kultum (kuliah tujuh menit). Meskipun hanya tujuh menit, namun sebagian besar pesan yang disampaikan begitu bermakna jika kita benar-benar memperhatikannya. Untungnya taushiyah yang disampaikan menggunakan bahasa Indonesia yang dapat kami mengerti, bukan bahasa yang sering warga disini gunakan, bahasa Jawa.
Saat shalat terawih, hujan turun sangat deras yang membuat udara cukup segar. Alhamdulillah.. dalam hati aku berharap semoga setelah selesai shalat terawih hujan reda karena tak ada satu pun dari kami yang membawa payung. Namun harapan memang terkadang tidak sesuai dengan kenyataan. Selesai shalat terawih, hujan semakin besar yang diiringi petir yang sangat besar juga bahkan beberapa kali listrik sempat padam. Astagfirullah… (alluhumma laa taqtulna dighodhobika wa la tuhlikna bi’adzabika wa’afina qobla dzalik)lindungi kami, Yaa Allah.
Setelah menunggu sekitar 45 menit, hujan mulai mengecil. Teman kami yang ada di rumah menjemput kami dengan membawa tiga payung, Alhamdulillah geng kami memang pada solid ;) di jalan menuju rumah, ada genangan air yang cukup dalam karena hujan desar dan memang jalannya rusak parah sekitar 3 meter, mau ga mau kami harus melewatinya, tak ada jalan lain selain genangan air tersebut. Kami pun melewatinya yang ternyata cukup dalam, kakiku terendam sampai mata kaki. Masya Allah..
Sekitar pukul 21.30 kami sampai di rumah yang disambut dengan ayam bakar… nyam nyam nyam..selamat makan malam :D Alhamdulillah :)

Ini cerita terawih pertamaku, apa ceritamu? :D