Monday, July 14, 2014

Persiapan Ujian Sidang Sarjanaku

Ujian sidang skripsi merupakan ujian terakhir selama kuliah pada jenjang s1. Perjuangan kita selama menyusun skripsi yang telah menghabiskan segala energi ini akan diuji selama beberapa jam. Dalam ketentuan di jurusan aku, untuk mengikuti sidang sarjana minimal sebanyak 20 orang peserta. Jika belum mencapai 20 orang, maka harus menunggu yang lain. Pada saat itu, target aku wisuda bulan April, sehingga harus selesai ujian sidang maksimal bulan Februari, namun sampai Februari akhir belum sampai 20 orang juga. Dengan berbagai kendala yang ada, akhirnya aku bisa ujian sidang pada awal bulan April yaitu tanggal 8 April 2014 dengan peserta sidang sebanyak 32 orang. Oleh karena itu, aku tidak bisa mengikuti wisuda pada gelombang pertama di bulan April. Kecewa pasti ada, tapi aku yakin ini sudah jalannya, ini sudah yang terbaik dan ternyata memang benar. Salah satu hikmahnya bulan April kemarin orang tuaku sedang sangat sibuk dalam pekerjaanya. Jika aku wisuda pada gelombang pertama, mungkin orang tuaku tidak bisa datang. Ah, apalah artinya wisuda kalau orang tua sendiri tidak bisa hadir, hehehe.
Setelah acc skripsi dari bab I-V, masih banyak yang harus dikerjakan sebelum skripsinya dijilid. Mulai dari penyusunan daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, lembar pengesahan, kata pengantar, ucapan terima kasih, pernyataan, lampiran, sampai abstrak dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Lampiran pun tidak sedikit, mulai dari instrumen penelitian, hasil perhitungan (jika penelitian kuantitatif), hasil wawancara, hasil observasi, dokumentasi, absensi siswa+RPP (jika penelitian tentang pembelajaran di kelas), surat-surat izin penelitian (dari jurusan, fakultas, universitas, sekolah, dinas, atau pun lembaga-lembaga yang bersangkutan), Surat Keputusan pembimbing dan penguji, daftar ceklis pustaka, daftar pustaka, sampai riwayat hidup. Namun semua ini bisa dikerjakan sambil menunggu hasil bimbingan skripsi agar tidak terlalu berat di akhir.
Adapun beberapa persyaratan yang harus disiapkan untuk mengikuti ujian sidang sarjana di jurusan PKn FPIPS UPI, mulai dari 10 buah pas foto hitam putih (untuk perempuan harus memakai kebaya), surat bebas perpustakaan, surat bebas iuran kemahasiswaan (IUK), transkip nilai yang telah diperiksa dan disetujui oleh dosen pembimbing akademik, lembar pengesahan skripsi dari pembimbing, bukti mengikuti tes TOEFL di Balai Bahasa UPI, bukti pembayaran SPP, bukti pembayaran wisuda di fakultas, artikel antologi (hard copy+soft file yang sudah diburning ke CD) sampai surat permohonan ujian sidang untuk ketua jurusan. Untuk tes TOEFL di Balai Bahasa UPI, selalu dilaksanakan setiap minggunya dan langsung dapat mengambil sertifikatnya beberapa hari setelah tes dilaksanakan. Biaya tes TOEFL (disana tes PTESOL yang setara dengan TOEFL) pada saat itu Rp 50.000 untuk mahasiswa dengan menunjukkan foto copy KTM dan Rp 75.000 untuk umum. Untuk surat bebas IUK, kita dapat mengambilnya di sekre BEM REMA UPI di PKM lantai 1 sebelah kanan. Kita dapat menanyakan kesana apakah sudah bayar atau belum, setiap tahunnya IUK ini sebesar Rp 17.000. Jika belum, kita dapat langsung bayar saat itu juga dan langsung dapat suratnya. Untuk surat bebas perpustakaan, kita datang ke perpustakaan dengan menunjukkan KTM dan meminta surat untuk ujian sidang, lalu kita menulis identitas di buku yang disediakan dan petugasnya akan memeriksa KTM kita, mengeceknya apakah masih ada buku yang dipinjam atau tidak. Setelah itu, saat itu juga kita langsung mendapat surat bebas perpustakaan untuk syarat sidang dan KTM kita secara  otomatis tidak dapat digunakan lagi untuk meminjam buku disana maupun mendeteksi kita saat masuk kesana.
Untuk lembar pengesahan skripsi dari pembimbing, minimal kita harus menyediakan sebanyak tujuh lembar yaitu lima lembar untuk skripsi yang akan dijilid dan dua lembar untuk dikumpulkan bersama dengan syarat yang lainnya kepada bagian administrasi di jurusan. Tanda tangan pembimbing harus menggunakan pulpen berwana biru sebagai bukti tanda tangan tersebut asli. Pembayaran wisuda dilakukan di fakultas lantai 1 di ruangan depan bagian akademik dengan mengisi identitas di komputer yang telah disediakan. Setelah itu, kita bisa meminta transkip sementara di fakultas. Adapun transkip sementara dari jurusan yang kita isi sendiri secara manual dan dicek bersama dosen pembimbing akademik berdasarkan transkip sementara dari fakultas. Bukti pembayaran wisuda jangan sampai hilang karena pada sehari sebelum wisuda, untuk mengambil toga kita harus menunjukkan bukti tersebut.
Skripsi untuk ujian sidang, kita menyiapkan lima skripsi yang telah di-soft cover berwarna merah. Skripsi tersebut kita serahkan kepada dua pembimbing dan tiga penguji setelah SK penguji turun beserta surat pengantar dari jurusan. SK penguji tidak akan disahkan apabila peserta sidang belum memenuhi syarat, sehingga beberapa minggu sebelumnya kita mengadakan kumpulan bersama sekretaris jurusan untuk mengetahui seputar administrasi dan teknis sidang.
*5 skripsi untuk sidang, cukup di-soft cover

Empat hari sebelum hari H ujian sidang, SK penguji diumumkan. Saat yang cukup mendebarkan, namun percayalah, setiap penguji memang mempunyai karakter masing-masing, yang terpenting adalah persiapkan ujian sidang semaksimal mungkin. insyaAllah apapun pertanyaan yang diajukan penguji, bisa kita jawab. Toh kita sendiri yang menyusun skripsinya, revisi berkali-kali, pastinya secara tidak langsung juga dibaca berulang-ulang, hehe. Selain berusaha mempersiapkan segalanya, jangan lupa berdoa kepada Allah, Dia lah yang mengatur segalanya, jangan lupa juga minta doa pada orang tua, doa orang tua itu selalu ada untuk anaknya.
Selamat berjuang, sukses selalu untuk kita semua. Aamiin yra :)

 *alhamdulillah "mereka" sangat mengerti aku, tetep sholeh meski dipake terus-terusan, hihihi.

*penyusunan draft butuh ketelitian, cek lagi sampai susunannya benar

*kertas yang ada lambang UPI nya ini sebagai pembatas antar bab

Wednesday, July 9, 2014

Euforia Pilpres

Merasa ada yang berbeda dengan hari ini? mengapa sekolah maupun instansi yang lainnya diliburkan? Ya, hari ini Rabu tanggal 9 Juli 2014 merupakan hari yang mungkin ditunggu-tunggu oleh sebagian besar warga Negara Indonesia. Hari penentuan presiden kita untuk lima tahun ke depan. Indonesia sebagai negara republik yang menganut sistem demokrasi memberikan kebebasan kepada warganya untuk memilih sendiri presidennya, sehingga dapat dikatakan hari ini semua warga Indonesia sedang merayakan “pesta demokrasi”.
Pemilihan presiden ini dilakukan oleh semua warga yang telah memiliki hak pilih. Sebagai pemilih pemula tentunya saya juga ikut memilih. Saya yakin teman-teman semua pun ikut memberikan suaranya. Kita semua tahu satu suara yang kita berikan sangat berpengaruh untuk Indonesia ke depannya.
Entah kenapa sekarang saya ikut deg-degan melihat hasil perhitungan suara sementara yang ditayangkan di televisi. Bagaimana tidak, pasangan calon presiden yang diusulkan hanya ada dua pilihan, nomor satu dan nomor dua. Perhitungan suara sementara masih berbeda-beda dari tim survey yang berbeda-beda pula dengan perbedaan angka yang sangat tipis. Kalau saya bayangkan mungkin ini bagaikan dua orang yang sedang melakukan lomba maraton menuju garis finish. Survey yang dilakukan baru sekitar 10% dari total suara yang diajukan. Namun demikian, siapa pun yang akan menjadi Presiden kita kedepannya insyaAllah itu yang terbaik yang mudah-mudahan dapat membawa Indonesia menjadi lebih baik lagi, aamiin yra.
Akhirnya saya kembali  bingung mau menuliskan apa lagi di postingan kali ini. yang pasti saya greget menonton hasil perhitungan sementara. Mungkin sedikit lebay tapi ini benar. Ya sudahlah, cukup sekian dan terima kasih. Mari kita sama-sama menyaksikan hasil dari pemilihan presiden ini. *yuuk hehehe* (ah ini mah curhat :p)

Tuesday, June 24, 2014

Pencarian Warga Belajar

Liat di sosmed kayaknya lagi pada sibuk KKN nih. Wah jadi ingat satu tahun yang lalu, aku pun sudah melewati masa-masa KKN itu. Waktu itu tema KKN aku keaksaraan fungsional yang mana aku dan teman-teman kelompok KKN ku mengajarkan warga setempat untuk dapat membaca, menulis, dan berhitung (calistung). KKN ini bisa dibilang gampang-gampang susah soalnya mengajak warga usia produktif untuk “belajar” bukan hal yang mudah, namun dibandingkan dengan tema KKN lain, tema ini lebih terfokus. Banyak dari mereka belum memiliki kesadaran sendiri akan pentingnya memiliki kemampuan membaca, menulias, dan berhitung.
Setelah melakukan perizinan kepada pemerintah setempat (Lurah, Kepala Desa, Kepala Dusun, dan Ketua-Ketua RT), minggu pertama yang kami lakukan adalah mencari warga yang belum memiliki kemampuan calistung dengan mendatangi rumah-rumah warga. Dari 10 orang, kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mendatangi rumah warga berdasarkan RT. Tak lupa kami memakai jas almamater untuk menunjukkan identitas kami, namun hal ini menjadikan kami memiliki “jarak” dengan warga dan terkesan kurang dekat. Bahkan ada beberapa warga yang menghindar masuk ke rumahnya saat kami akan menemuinya. Esok harinya kami memakai pakaian santai. Dengan demikian, kami lebih mudah menemui warga setempat.
Beberapa hari berlalu, kami menemukan banyak warga yang kami cari untuk mengikuti pembinaan keaksaraan. Suatu hari, kami berencana mengumpulkan warga yang bersangkutan untuk memberikan pengertian mengenai pembinaan keaksaraan, pengisian formulir warga belajar, pembagian kelompok belajar, dan tempat belajar. Namun pada saat itu hanya ada seorang warga yang datang. Dia seorang perempuan paruh baya yang memiliki semangat tinggi untuk mengikuti pembinaan keaksaraan. Dia menceritakan bahwa ada beberapa orang tetangganya yang ingin mengikuti pembinaan ini namun mereka merasa malu dan ada pula yang memiliki kesibukan yang tidak dapat mereka tinggalkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Melihat berbagai kendala tersebut, kami melakukan pendekatan dengan memberikan keluasan kepada warga untuk memilih waktu dan tempat belajar. Dengan cara tersebut dan ajakan dari seorang perempuan paruh baya tadi, kami mendapatkan satu kelompok belajar yang bertempat di rumahnya pada pukul 10 pagi.
Merasa kurang efektif dengan cara pengumpulan warga, kami melakukan pendataan warga yang bersangkutan melalui sebuah lembaga khusus yang menangani masalah keaksaraan. Namun ternyata data tersebut sudah tidak akurat alias sudah tidak berlaku setelah kami menanyakaan kepada salah satu ketua RT yang rumahnya kami tinggali selamaa KKN berlangsung. Selain itu, kami mendatangi ketua-ketua RT lain untuk mensosialisasikan program kami. Respon yang mereka berikan sangat baik dalam mendukung program kami. Namun tidak semua warga sependapat dengan ketua RTnya. Ada berbagai alasan mereka untuk tidak mengikuti pembinaan yang kami rencanakan. Adapun warga yang sangat antusias untuk mengikutinya. Bahkan ada beberapa warga yang usianya lebih dari 60 tahun ingin mengikuti program kami. Meskipun kami hanya menargetkan warga usia produktif (15-45 tahun), kami sangat terbuka jika ada warga yang demikian. Pendataan warga inilah yang kami rasa cukup sulit. Kami memerlukan hampir dua minggu untuk melakukannya sampai pelaksanaan pembelajaran berlangsung. Selam itu pula kami merekap profil warga belajar, menyusunan perencanaan pembelajaran, peneetapan tutor, dan sebagainya. Setelah melewati tahapan tersebut akhirnya kami memiliki tiga tempat belajar masing-masing kelompok belajar tingkat dasar dan tingkat lanjutan.

Wednesday, May 21, 2014

Cukup Menguras Pikiran

Bagaimana jadinya kalau soal-soal yang keluar saat ujian berbanding terbalik dengan materi yang telah dipersiapkan sebelumnya? Mungkin agak kecewa juga tapi ya ga perlu juga kayaknya kalau mau menyalahkan pembuat soal, salah siapa hanya terfokus pada materi tertentu, hehe. Sudahlah, sekarang kita berdoa aja, mudah-mudahan ditunjukkan yang terbaik oleh Allah SWT aamiin yra.
Sekitar jam 6.20 aku berangkat dari kosan dengan membawa tas beserta isinya termasuk alat tulis dan kartu tanda peserta. Pagi itu terasa sangat dingin. Hampir sebulan di Tasik, kembali ke Bandung seperti kembali ke tempat baru, beradaptasi kembali. Entah itu beradaptasi dengan udara maupun dengan pola makan. Mungkin karena aku yang sedang kurang fit dan makan tidak teratur, didukung udara dingin yang baru saja aku rasakan kembali, jadilah hidungku terkena flu. Tak lupa aku membawa bekal untuk sarapan seadanya, roti dan air mineral.
Sesampainya di depan gedung Sps UPI (Sekolah Pasca Sarjana UPI), sudah cukup ramai, banyak orang lalu lalang keluar masuk gedung dan beberapa orang yang menawarkan alat tulis seperti papan, pensil, penghapus, dan sebagainya. Ruangan tempat aku tes berada di lantai 3 sebelah kiri gedung tersebut. Cukup mudah untuk menemukannya karena memang saat itu suasananya cukup ramai, sangat terasa adanya pelaksanaan tes. Sebelum tes berlangsung, aku menyempatkan untuk sarapan terlebih dahulu. Tempat dudukku tepat di bawah pendingin ruangan (AC), merasa was-was karena memang saat itu aku sedang flu. Aku takut flu itu mengganggu konsentrasiku saat mengerjakan soal. Dugaanku benar. Selama mengerjakan soal, aku terus menerus flu dan batuk. Beberapa kali aku menahan batukku dengan minum, karena takut mengganggu peserta tes yang lainnya. Di saat seperti itu, terkadang kita sulit untuk berfikir positif. Berharap saat ujian dapat konsentrasi namun ternyata tidak. Hiks. Ku kerjakan soal-soal tersebut sesuai dengan kemampuanku.
Tes yang diujikan terdiri dari soal Bahasa Inggris dan Potensi Akademik yang cukup menguras pikiranku. Melihat soal seperti itu aku semakin ingin lebih meningkatkan kemampuan Bahasa Inggrisku yang masih sangat berantakan. Masih banyak kosakata yang belum aku mengerti saat aku membaca panjangnya teks. Aku masih menggunakan cara mengira-ngira dengan menyambungkan kata dan kalimatnya dengan mengambil kata kuncinya. Aku pikir mungkin jika nanti aku lulus dan menjalani perkuliahan akan banyak menggunakan bahasa internasional itu. Mungkin soal-soal tersebut merupakan contohnya. Dengan waktu 90 menit, aku harus menyelesaikan 60 soal Bahasa Inggris. Meskipun soal-soal tersebut berdasarkan pada teks, banyak soal yang berkaitan dengan grammar, kosakata, penghitungan dan sebagainya. Berbeda dengan soal Bahasa Inggris, soal Pontensi Akademik terdiri dari 120 soal. Parahnya, sekitar 30-40 nomor terakhir aku kerjakan di 15 menit terakhir. Aku terlalu terfokus pada soal yang sulit. Padahal seharusnya kita dapat mengerjakan soal-soal yang mudah terlebih dahulu. Ini jadi pelajaran bagiku agar kedepannya bisa lebih mengatur waktu dalam mengerjakan soal. Untungnya tes ini tidak ada sistem pengurangan nilai jika jawabaan kita salah, sehingga aku coba isi semua soal meski tidak yakin jawabanku itu benar atau salah.
Bismillah. Jika ada keinginan, insyaAllah ada jalannya. Semuanya ku pasrahkan pada Mu, Ya Allah. Jika memang ini yang terbaik, lancarkan dan mudahkan jalanku ini, aamiin yra.
Mohon doanya :)

Monday, May 19, 2014

Kwetiau Favorit

Penyusunan skripsi tentu akan terasa jenuh jika dilakukan terus menerus tanpa istirahat terutama jika satu semester itu hanya mengontrak skripsi tanpa kegiatan lain. Untuk mengatasinya biasanya aku melakukan apapun yang aku suka. Entah itu dilakukan di kosan, di kampus, mau pun di luar kosan dan kampus. Lakukanlah apa yang menjadi hobimu agar otak kembali fresh. Manjakan dirimu, hehe. Tapi yang sering ku lakukan adalah jajan, jadilah badanku tumbuh ke samping *ups jujur hihihi.
Suatu hari secara tak sengaja aku membuka grup di fb, ada info seminar kepenulisan yang salah satu pematerinya Darwis Tere Liye. Wow, dia penulis yang sangat menginspirasi bagiku. Aku sangat tertarik untuk mengikutinya.
Aku ikut acara itu sendirian, ku ajak teman-temanku namun mereka sudah punya jadwal masing-masing di hari itu. Saat jam istirahat siang, aku mencari makan pun sendirian (sedih, ga dikasih makan pula sama panitia, emang harga ga pernah bohong sih *ngomong sendirian* hihihi) dan ku temukan makanan ini, taraaa:

Ya, this is kwetiau goreng, tepatnya ada di kantin pasca UPI (belakang gedung pasca Upi, sebelah ampiteater Upi/Gd kebudayaan). Kalau menurut aku rasanya enak, bumbunya pas, kematangannya pas, sayurannya sesuai sama takaran kwetiaunya, ada telur, ayam suir, potongan baso sama potongan sosis. Nice. Rasanya beda sama kwetiau-kwetiau yang pernah aku cobain sekitar kosan. Piringnya pakai piring bambu dilapisi kertas nasi. Cukup sederhana namun rasanya pas, dengan harga pas Rp 9rb. Ibunya juga baik. Pas masuk kantin, kedai ini ada di sebelah kanan dekat dengan kedai seblak dan minuman. 
Selain kwetiau goreng, ada juga kwetiau kuah. Kalau kwetiau kuah, tampilannya hampir mirip dengan mie baso tapi ini mie-nya diganti dengan kwetiau. Sayurannya pakai kol. Basonya seperti baso beneran, eh maksudnya bukan baso yang seperti aci gitu kenyal-kenyal gitu, yang ini basonya lumayan enak menurutku dan menurut teman-temanku yang sering makan siang disini juga. Oh iya kalau kwetiau kuah tempatnya bukan pakai kertas nasi tapi pakai mangkok biasa dan disediakan kecap sambal seperti di tukang baso lainnya, hehe. 
Kalau makan siang disini rasanya kayak ikutan jadi mahasiswa pasca tapi kayaknya mukanya belum kewajahan, hehe. Mudah-mudahan suatu saat nanti aku bisa melanjutkan pendidikanku di Pasca Upi ini, aamiiin yra :)