Friday, August 29, 2014

Pra Perkuliahan (Part 2)

Hari ketiga pra perkuliahan dilakukan terpisah oleh masing-masing program studi. Untuk prodi PKn bertempat di auditorium FPIPS yang diawali dengan materi dari Ketua Jurusan mengenai strategi membaca, pemaparan profil PKn oleh Ketua Jurusan dan Sekretaris Jurusan. Pada saat pemaparan profil PKn digabung dengan mahasiswa baru dari s1. Setelah istirahat, jam 1 dilanjutkan materi mengenai budaya membaca dan menulis. Pada sesi ini, kita dibagi menjadi dua kelompok sesuai kelas. Kelas A di ruang pertemuan lantai 4 dan kelas B di lantai 3 dengan fasilitas yang sangat memadai. Adapun yang membuatku “mikir” lagi saat itu dengan pertanyaan yang diajukan dosen “berapa buku yang telah Anda baca selama seminggu atau satu bulan?”. Aku memang jarang sekali baca buku, dari dulu sudah diniatkan akan menyisihkan uang untuk membeli buku setiap bulannya namun sampai sekarang belum tercapai juga. Satu buku pun sepertinya tidak aku selesaikan dalam beberapa bulan bahkan satu tahun. Jangankan buku di luar perkuliahan, buku perkuliahan pun aku hanya membacanya yang aku pikir diperlukan saja. Kalau novel-novel, aku kalah sama mamah yang lebih banyak tahu tentang novel-novel yang bagus. Untuk saat ini, aku akan membaca sebuah buku jika mamah mengabariku bahwa buku tersebut bagus untuk dibaca baru aku akan membacanya.  Sungguh, membaca buku belum menjadi budaya bagiku, tapi “lets gone be by gone”, yang lalu biarlah berlalu, mudah-mudahan ini bisa jadi pelajaran juga buat aku pribadi.
Masih di tempat yang sama, hari keempat pra perkuliahan membahas tentang strategi menulis teks akademik dan analisis artikel jurnal. Dari pembahasan tersebut, aku jadi sadar bahwa menulis itu merupakan keterampilan yang akan bisa dicapai jika terus dilatih. Artinya jangan takut salah untuk terus mencoba menulis, sangat wajar jika tulisan pertama kita masih salah. Pun sama seperti yang pernah menulis tapi sudah sangat lama tidak menulis, mungkin akan terasa canggung kembali. Tapi aku yakin, dengan terus berlatih, keterampilan menulis akan semakin baik. Selain itu, masih banyak lagi langkah-langkah yang dapat kita lakukan untuk menulis khususnya menulis teks akademik. Dalam pembahasan analisis artikel jurnal, aku dapat banyak informasi baru tentang cara membuat artikel jurnal, cara mengajukan artikel jurnal ke jurnal nasional maupun internasional. Di akhir pembahasan, kita langsung ditugaskan untuk menganalisis beberapa artikel jurnal nasional dan internasional yang berkaitan dengan PKn dalam sebuah tulisan. Tulisan tersebut ditulis tangan dalam kertas polio minimal dua halaman dalam waktu sekitar dua jam.
*lagi pusing-pusing nganalisis jurnal, foto dulu :D

Setelah menulis selesai dan istirahat sejenak, sekitar jam 4 sore dilanjut dengan evaluasi dan penutupan. Evaluasi dan penutupan ini seharusnya dilaksanakan pada hari kelima, yaitu pada hari Jumat, namun karena prodi akan mengadakan sidang sarjana, jadi dipajukan sore itu. Evaluasi dari pra perkuliahan ini seperti ujian pada umunya, satu lembar kertas soal yang terdiri dari lima soal dan satu lembar lagi kertas polio untuk jawaban. Soal-soal tersebut merupakan materi yang telah disampaikan selam pra perkuliahan. Selanjutnya penutupan langsung oleh Ketua Jurusan.
Alhamdulillah pra perkuliahan selesai, Senin depan sudah mulai kuliah. Semangat ;)

Pra Perkuliahan (Part 1)

Hari pertama pra perkuliahan ada kuliah umum dan pemaparan seputar SPs UPI yang bertempat di Gedung Ahmad Sanusi UPI atau dulunya bernama Balai Pertemuan Umum (BPU) UPI. Dimulai dari jam 8 pagi sampai sekitar jam 3 sore. Awalnya aku benar-benar tidak tahu apa saja agenda selama pra perkuliahan ini. Namun yang aku pikir pra perkuliahan ini tidak akan mungkin sama dengan mahasiswa baru jenjang s1 yang menggunakan berbagai atribut yang ditentukan oleh panitia. Di hari pertama ini, aku pergi bersama teman sekelasku saat kita kuliah s1 dulu yang sekarang sama-sama melanjutkan pendidikan masih di kampus ini. Sambil mengikuti rangkaian acara dengan tiga sesi, aku pun banyak bertemu dengan teman baru, berkenalan sambil sesekali bertukar informasi mengenai pra perkuliahan. Ternyata jadwal pra perkuliahan dan jadwal kuliah sudah ada di websitenya SPs, kita bisa langsung men-download-nya. Sekitar jam 9, ada kuliah umum dari Sekjen Kemdikbud, dilanjut pemaparan perkuliahan di SPs dan jam 1 pemaparan mengenai disiplin mahasiswa yang kurang lebih menjelaskan peraturan di kampus.
Pada saat sesi tanya jawab dalam kuliah umum, yang paling menarik menurut aku yaitu membahas tentang kurikulum 2013 dan kabar tentang kuliah s2 yang diperpanjang menjadi empat tahun. Beliau menegaskan bahwa waktu kuliah s2 tidak mungkin akan menjadi empat tahun, bahkan di kampus-kampus di dunia pun tidak ada perkuliahan s2 yang diselesaikan dalam waktu empat tahun, yang ada hanya jumlah SKS nya yang ditambahkan, sehingga dalam setiap semester, SKS nya dipadatkan. Peraturan ini baru disahkan bulan Juni lalu dan baru akan dilaksanakan tahun ajaran baru 2015/2016. Dalam peraturan tersebut kurang lebih menyatakan jumlah SKS yang harus ditempuh dalam jenjang pendidikan s2 ditambah menjadi sebanyak 72 SKS dari yang biasanya sekitar 48-54 SKS, sehingga kabar yang beredar adalah waktu untuk menyelesaikan pendidikan s2 diperpanjang menjadi empat tahun.
Ada pun informasi yang membuat kita “mikir” saat pemaparan seputar SPs UPI yaitu tentang “Hari Sakaratul Maut” (HSM) bagi mahasiswa angkatan 2014 ini. HSM berarti hari maksimal kita harus sudah menyelesaikan kuliah alias harus sudah lulus. Seperti yang telah kita ketahui, untuk jenjang s2 maksimal waktu tempuh kuliah itu tiga tahun. Jika lebih dari tiga tahun, maka mahasiswa yang bersangkutan dianggap drop out (DO) dan apabila ingin melanjutkan, tidak bisa masuk kembalai kepada program studi asal, tetapi harus memilih program studi yang lain. Misalnya tahun sekarang masuk program studi PKn, namun tiga tahun berikutnya belum dapat menyelesaikan kuliah karena berbagai kendala, maka dengan terpaksa harus DO meskipun sedang menyusun tesis. Jika ingin masuk kembali ke SPs, tidak bisa kembali ke prodi PKn namun harus masuk atau memilih prodi lain selain dari PKn. Begitupun dengan mahasiswa s3 yang harus dapat menyelesaikan kuliahnya maksimal empat tahun. Jika tidak, maka harus DO juga. HSM bagi mahasiswa baru s2 itu jatuh pada tanggal 31 Agustus 2017 dan bagi mahasiswa baru s3 yaitu 1 tahun setelahnya. Mudah-mudahan kita bisa menyelesaikan kuliah ini tepat waktu, aamiin yra.
Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah kemampuan Bahasa Inggris. Pada saat tes masuk SPs, soal yang diujikan adalah soal Bahasa Inggris dan Tes Potensi Akademik. Untuk mahasiswa yang kemampuan Bahasa Inggrisnya sudah memenuhi syarat, maka ia akan menerima surat dari SPs. Namun bagi mahasiswa yang tidak menerimanya, maka ia harus mengikuti tes TOEFL atau setara TOEFL dengan skor minimal 450 bagi mahasiswa s2. Bukti mengikuti tes TOEFL ini harus dikumpulkan maksimal pada semester satu. Bagi teman-teman yang masih duduk di bangku s1, lebih baik pelajari Bahasa Inggris dari sekarang karena kemampuan bahasa asing kita akan terus bermanfaat bagi kita kedepannya, baik untuk melanjutkan pendidikan maupun untuk kebutuhan bekerja nanti. Terlebih untuk persyaratan beasiswa s2 dalam dan luar negeri biasanya selalu dibutuhkan bukti tes TOEFL atau setara dengan skor minimal 500 untuk dalam negeri dan 550 untuk beasiswa ke luar negeri. Tetapi untuk siapapun tidak ada kata terlambat untuk terus mempelajari bahasa asing. Seperti aku yang masih sangat jauh dari rata-rata, masih harus terus mempelajarai bahasa asing. Untuk mengajukan beasiswa pun, skor TOEFL aku belum memenuhi syarat, sehingga aku harus terus belajar. Selain untuk tuntutan akademik, masih banyak manfaat lain dari memiliki kemampuan bahasa asing.
Di hari kedua pra perkuliahan, jam 7 pagi penerimaan mahasiswa baru oleh rektor UPI dan kuliah umum di gymnasium bersama-sama dengan mahasiswa baru jenjang s1. Pada sesi ini, aku jadi teringat empat tahun yang lalu tepatnya pada tahun 2010 aku pun merasakan hal yang sama sebagai mahasiswa baru jenjang s1, mengikuti masa orientasi kampus dan kuliah umum UPI (MOKA-KU UPI), mengenakan pakaian putih hitam dengan berbagai atribut warna-warni yang ditentukan oleh panitia tanpa rasa malu sedikit pun. Saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, aku berangkat dari tempat kos sekitar jam 5 selepas sahur langsung mandi dan siap-siap mengikuti rangkaian acara MOKA-KU UPI. Ya, saat langit masih gelap aku harus segera sampai di gymnasium karena takut terlambat. Berbagai rangkaian acara aku ikuti selama empat hari, memang sangat cape namun banyak juga hal positif yang aku dapat sebagai mahasiswa baru di kampus ini. Jika aku ingat kejadian itu sekarang, jadi ingin senyum-senyum sendiri, rasanya sangat lucu, konyol, polos, ah meskipun begitu tetaplah menjadi unforgettable moment, hihihi. Pada tahun ini, ada sesuatu yang baru bagiku saat sesi penerimaan mahasiswa baru yaitu adanya janji mahasiswa tentang anti plagiat, anti perpeloncoan, dan anti mencontek. Perwakilan dari setiap fakultas dan perwakilan dari kampus daerah masing-masing dua orang maju ke depan untuk membacakannya dan diikuti oleh seluruh mahasiswa baru. Entah dari tahun kemarin atau tahun ini mulai ada janji tersebut, yang jelas adanya janji mahasiswa itu untuk kebaikan mahasiswa sendiri, dosen, lembaga, dan yang lainnya.
 *kurang jelas ya? maklum, diambil dari lt.3, pake kamera hp lagi :D
Jam 10 di hari kedua ini, dilanjut dengan materi tentang plagiarism di BPU dan pemaparan tentang Forum Komunikasi Mahasiswa (FKM) pada jam 1nya setelah istirahat. FKM ini merupakan suatu organisasi di SPs UPI yang menaungi berbagai kegiatan di luar perkuliahan dengan berbagai bidang/departemen. Mungkin tidak jauh berbeda dengan BEM untuk mahasiswa s1. Melihat berbagai kegiatan yang ditayangkan membuatku ingin mengikutinya, ingin mencari pengalaman dari FKM ini.
 --Bersambung...

Monday, July 14, 2014

Persiapan Ujian Sidang Sarjanaku

Ujian sidang skripsi merupakan ujian terakhir selama kuliah pada jenjang s1. Perjuangan kita selama menyusun skripsi yang telah menghabiskan segala energi ini akan diuji selama beberapa jam. Dalam ketentuan di jurusan aku, untuk mengikuti sidang sarjana minimal sebanyak 20 orang peserta. Jika belum mencapai 20 orang, maka harus menunggu yang lain. Pada saat itu, target aku wisuda bulan April, sehingga harus selesai ujian sidang maksimal bulan Februari, namun sampai Februari akhir belum sampai 20 orang juga. Dengan berbagai kendala yang ada, akhirnya aku bisa ujian sidang pada awal bulan April yaitu tanggal 8 April 2014 dengan peserta sidang sebanyak 32 orang. Oleh karena itu, aku tidak bisa mengikuti wisuda pada gelombang pertama di bulan April. Kecewa pasti ada, tapi aku yakin ini sudah jalannya, ini sudah yang terbaik dan ternyata memang benar. Salah satu hikmahnya bulan April kemarin orang tuaku sedang sangat sibuk dalam pekerjaanya. Jika aku wisuda pada gelombang pertama, mungkin orang tuaku tidak bisa datang. Ah, apalah artinya wisuda kalau orang tua sendiri tidak bisa hadir, hehehe.
Setelah acc skripsi dari bab I-V, masih banyak yang harus dikerjakan sebelum skripsinya dijilid. Mulai dari penyusunan daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, lembar pengesahan, kata pengantar, ucapan terima kasih, pernyataan, lampiran, sampai abstrak dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Lampiran pun tidak sedikit, mulai dari instrumen penelitian, hasil perhitungan (jika penelitian kuantitatif), hasil wawancara, hasil observasi, dokumentasi, absensi siswa+RPP (jika penelitian tentang pembelajaran di kelas), surat-surat izin penelitian (dari jurusan, fakultas, universitas, sekolah, dinas, atau pun lembaga-lembaga yang bersangkutan), Surat Keputusan pembimbing dan penguji, daftar ceklis pustaka, daftar pustaka, sampai riwayat hidup. Namun semua ini bisa dikerjakan sambil menunggu hasil bimbingan skripsi agar tidak terlalu berat di akhir.
Adapun beberapa persyaratan yang harus disiapkan untuk mengikuti ujian sidang sarjana di jurusan PKn FPIPS UPI, mulai dari 10 buah pas foto hitam putih (untuk perempuan harus memakai kebaya), surat bebas perpustakaan, surat bebas iuran kemahasiswaan (IUK), transkip nilai yang telah diperiksa dan disetujui oleh dosen pembimbing akademik, lembar pengesahan skripsi dari pembimbing, bukti mengikuti tes TOEFL di Balai Bahasa UPI, bukti pembayaran SPP, bukti pembayaran wisuda di fakultas, artikel antologi (hard copy+soft file yang sudah diburning ke CD) sampai surat permohonan ujian sidang untuk ketua jurusan. Untuk tes TOEFL di Balai Bahasa UPI, selalu dilaksanakan setiap minggunya dan langsung dapat mengambil sertifikatnya beberapa hari setelah tes dilaksanakan. Biaya tes TOEFL (disana tes PTESOL yang setara dengan TOEFL) pada saat itu Rp 50.000 untuk mahasiswa dengan menunjukkan foto copy KTM dan Rp 75.000 untuk umum. Untuk surat bebas IUK, kita dapat mengambilnya di sekre BEM REMA UPI di PKM lantai 1 sebelah kanan. Kita dapat menanyakan kesana apakah sudah bayar atau belum, setiap tahunnya IUK ini sebesar Rp 17.000. Jika belum, kita dapat langsung bayar saat itu juga dan langsung dapat suratnya. Untuk surat bebas perpustakaan, kita datang ke perpustakaan dengan menunjukkan KTM dan meminta surat untuk ujian sidang, lalu kita menulis identitas di buku yang disediakan dan petugasnya akan memeriksa KTM kita, mengeceknya apakah masih ada buku yang dipinjam atau tidak. Setelah itu, saat itu juga kita langsung mendapat surat bebas perpustakaan untuk syarat sidang dan KTM kita secara  otomatis tidak dapat digunakan lagi untuk meminjam buku disana maupun mendeteksi kita saat masuk kesana.
Untuk lembar pengesahan skripsi dari pembimbing, minimal kita harus menyediakan sebanyak tujuh lembar yaitu lima lembar untuk skripsi yang akan dijilid dan dua lembar untuk dikumpulkan bersama dengan syarat yang lainnya kepada bagian administrasi di jurusan. Tanda tangan pembimbing harus menggunakan pulpen berwana biru sebagai bukti tanda tangan tersebut asli. Pembayaran wisuda dilakukan di fakultas lantai 1 di ruangan depan bagian akademik dengan mengisi identitas di komputer yang telah disediakan. Setelah itu, kita bisa meminta transkip sementara di fakultas. Adapun transkip sementara dari jurusan yang kita isi sendiri secara manual dan dicek bersama dosen pembimbing akademik berdasarkan transkip sementara dari fakultas. Bukti pembayaran wisuda jangan sampai hilang karena pada sehari sebelum wisuda, untuk mengambil toga kita harus menunjukkan bukti tersebut.
Skripsi untuk ujian sidang, kita menyiapkan lima skripsi yang telah di-soft cover berwarna merah. Skripsi tersebut kita serahkan kepada dua pembimbing dan tiga penguji setelah SK penguji turun beserta surat pengantar dari jurusan. SK penguji tidak akan disahkan apabila peserta sidang belum memenuhi syarat, sehingga beberapa minggu sebelumnya kita mengadakan kumpulan bersama sekretaris jurusan untuk mengetahui seputar administrasi dan teknis sidang.
*5 skripsi untuk sidang, cukup di-soft cover

Empat hari sebelum hari H ujian sidang, SK penguji diumumkan. Saat yang cukup mendebarkan, namun percayalah, setiap penguji memang mempunyai karakter masing-masing, yang terpenting adalah persiapkan ujian sidang semaksimal mungkin. insyaAllah apapun pertanyaan yang diajukan penguji, bisa kita jawab. Toh kita sendiri yang menyusun skripsinya, revisi berkali-kali, pastinya secara tidak langsung juga dibaca berulang-ulang, hehe. Selain berusaha mempersiapkan segalanya, jangan lupa berdoa kepada Allah, Dia lah yang mengatur segalanya, jangan lupa juga minta doa pada orang tua, doa orang tua itu selalu ada untuk anaknya.
Selamat berjuang, sukses selalu untuk kita semua. Aamiin yra :)

 *alhamdulillah "mereka" sangat mengerti aku, tetep sholeh meski dipake terus-terusan, hihihi.

*penyusunan draft butuh ketelitian, cek lagi sampai susunannya benar

*kertas yang ada lambang UPI nya ini sebagai pembatas antar bab

Wednesday, July 9, 2014

Euforia Pilpres

Merasa ada yang berbeda dengan hari ini? mengapa sekolah maupun instansi yang lainnya diliburkan? Ya, hari ini Rabu tanggal 9 Juli 2014 merupakan hari yang mungkin ditunggu-tunggu oleh sebagian besar warga Negara Indonesia. Hari penentuan presiden kita untuk lima tahun ke depan. Indonesia sebagai negara republik yang menganut sistem demokrasi memberikan kebebasan kepada warganya untuk memilih sendiri presidennya, sehingga dapat dikatakan hari ini semua warga Indonesia sedang merayakan “pesta demokrasi”.
Pemilihan presiden ini dilakukan oleh semua warga yang telah memiliki hak pilih. Sebagai pemilih pemula tentunya saya juga ikut memilih. Saya yakin teman-teman semua pun ikut memberikan suaranya. Kita semua tahu satu suara yang kita berikan sangat berpengaruh untuk Indonesia ke depannya.
Entah kenapa sekarang saya ikut deg-degan melihat hasil perhitungan suara sementara yang ditayangkan di televisi. Bagaimana tidak, pasangan calon presiden yang diusulkan hanya ada dua pilihan, nomor satu dan nomor dua. Perhitungan suara sementara masih berbeda-beda dari tim survey yang berbeda-beda pula dengan perbedaan angka yang sangat tipis. Kalau saya bayangkan mungkin ini bagaikan dua orang yang sedang melakukan lomba maraton menuju garis finish. Survey yang dilakukan baru sekitar 10% dari total suara yang diajukan. Namun demikian, siapa pun yang akan menjadi Presiden kita kedepannya insyaAllah itu yang terbaik yang mudah-mudahan dapat membawa Indonesia menjadi lebih baik lagi, aamiin yra.
Akhirnya saya kembali  bingung mau menuliskan apa lagi di postingan kali ini. yang pasti saya greget menonton hasil perhitungan sementara. Mungkin sedikit lebay tapi ini benar. Ya sudahlah, cukup sekian dan terima kasih. Mari kita sama-sama menyaksikan hasil dari pemilihan presiden ini. *yuuk hehehe* (ah ini mah curhat :p)

Tuesday, June 24, 2014

Pencarian Warga Belajar

Liat di sosmed kayaknya lagi pada sibuk KKN nih. Wah jadi ingat satu tahun yang lalu, aku pun sudah melewati masa-masa KKN itu. Waktu itu tema KKN aku keaksaraan fungsional yang mana aku dan teman-teman kelompok KKN ku mengajarkan warga setempat untuk dapat membaca, menulis, dan berhitung (calistung). KKN ini bisa dibilang gampang-gampang susah soalnya mengajak warga usia produktif untuk “belajar” bukan hal yang mudah, namun dibandingkan dengan tema KKN lain, tema ini lebih terfokus. Banyak dari mereka belum memiliki kesadaran sendiri akan pentingnya memiliki kemampuan membaca, menulias, dan berhitung.
Setelah melakukan perizinan kepada pemerintah setempat (Lurah, Kepala Desa, Kepala Dusun, dan Ketua-Ketua RT), minggu pertama yang kami lakukan adalah mencari warga yang belum memiliki kemampuan calistung dengan mendatangi rumah-rumah warga. Dari 10 orang, kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mendatangi rumah warga berdasarkan RT. Tak lupa kami memakai jas almamater untuk menunjukkan identitas kami, namun hal ini menjadikan kami memiliki “jarak” dengan warga dan terkesan kurang dekat. Bahkan ada beberapa warga yang menghindar masuk ke rumahnya saat kami akan menemuinya. Esok harinya kami memakai pakaian santai. Dengan demikian, kami lebih mudah menemui warga setempat.
Beberapa hari berlalu, kami menemukan banyak warga yang kami cari untuk mengikuti pembinaan keaksaraan. Suatu hari, kami berencana mengumpulkan warga yang bersangkutan untuk memberikan pengertian mengenai pembinaan keaksaraan, pengisian formulir warga belajar, pembagian kelompok belajar, dan tempat belajar. Namun pada saat itu hanya ada seorang warga yang datang. Dia seorang perempuan paruh baya yang memiliki semangat tinggi untuk mengikuti pembinaan keaksaraan. Dia menceritakan bahwa ada beberapa orang tetangganya yang ingin mengikuti pembinaan ini namun mereka merasa malu dan ada pula yang memiliki kesibukan yang tidak dapat mereka tinggalkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Melihat berbagai kendala tersebut, kami melakukan pendekatan dengan memberikan keluasan kepada warga untuk memilih waktu dan tempat belajar. Dengan cara tersebut dan ajakan dari seorang perempuan paruh baya tadi, kami mendapatkan satu kelompok belajar yang bertempat di rumahnya pada pukul 10 pagi.
Merasa kurang efektif dengan cara pengumpulan warga, kami melakukan pendataan warga yang bersangkutan melalui sebuah lembaga khusus yang menangani masalah keaksaraan. Namun ternyata data tersebut sudah tidak akurat alias sudah tidak berlaku setelah kami menanyakaan kepada salah satu ketua RT yang rumahnya kami tinggali selamaa KKN berlangsung. Selain itu, kami mendatangi ketua-ketua RT lain untuk mensosialisasikan program kami. Respon yang mereka berikan sangat baik dalam mendukung program kami. Namun tidak semua warga sependapat dengan ketua RTnya. Ada berbagai alasan mereka untuk tidak mengikuti pembinaan yang kami rencanakan. Adapun warga yang sangat antusias untuk mengikutinya. Bahkan ada beberapa warga yang usianya lebih dari 60 tahun ingin mengikuti program kami. Meskipun kami hanya menargetkan warga usia produktif (15-45 tahun), kami sangat terbuka jika ada warga yang demikian. Pendataan warga inilah yang kami rasa cukup sulit. Kami memerlukan hampir dua minggu untuk melakukannya sampai pelaksanaan pembelajaran berlangsung. Selam itu pula kami merekap profil warga belajar, menyusunan perencanaan pembelajaran, peneetapan tutor, dan sebagainya. Setelah melewati tahapan tersebut akhirnya kami memiliki tiga tempat belajar masing-masing kelompok belajar tingkat dasar dan tingkat lanjutan.